Senin, 11 Februari 2008

MUharram Asyuro


Karya Gemilang Yang Senantiasa Mengagungkan Asma-Nya
(Tinjauan Al-Quran Surah At-Taubah : 36)
Oleh: Dani Moh. Ramdani

"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu, dan perangilah musyrikin semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa." (QS. at-Taubah: 36)

Syukur kita panjatkan kehadirat Alloh SWT yang telah memberikan banyak kenikmatan kepada kita semua, diantaranya dengan diciptakan Langit dan Bumi. Betapa tinggi, indah, dan kokohnya langit, begitu besar, luas dan indahnya hamparan Bumi. Sungguh, tidak ada yang mampu menciptakan semua keindahan ini kecuali Rabbul 'Izzati.
Alloh hiasi langit ini dengan dua buah karya gemilang-Nya sehingga menjadi lebih indah, yang tanpa nya nafas tak kan terhembus, tanpa nya kehidupan tak kan tercipta. Subhanalloh, itulah Matahari dan Bulan. Matahari menyinari Bumi sehingga kita dapat merasakan ni'matnya siang dan Bulan bercahaya sehingga kita dapat merasakan nyamannya malam. Siang dan malam datang silih berganti. Hal ini disebabkan karena berputarnya bumi pada sumbunya, di samping peredarannya mengelilingi matahari. Bagian bumi yang mendapatkan sinar matahari mengalami waktu siang, dan bagian yang tidak mendapatkan sinar matahari mengalami waktu malam dengan cahaya bulan sebagai hasil pantulan dari sinar matahari.
Matahari dan Bulan keduanya bergerak di dalam orbit atau garis edarnya masing-masing dalam hamparan langit yang sangat luas, dan hanya Dialah yang mengetahui batas-batasnya. Mari kita lihat Surah Al Anbiyaa ayat 33: Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.
Disebutkan pula dalam Surah Yaasin ayat 38, bahwa Matahari tidaklah diam tetapi bergerak dalam garis edar tertentu. Kata tajrii berasal dari 'jaro almaau wa ghoiruhu', berarti mengalirnya air dan yang lainnya. Artinya, berjalan atau berpindahnya sesuatu dari satu tempat ke tempat yang lain dengan cepat. Kata ini juga berarti perjalanan sangat jauh yang ditempuh dalam waktu yang relatif singkat. Kalimat limustaqarrin bermaksud bahwa Matahari bergerak atau beredar dari tempatnya ke tempat lain dan tetap pada jalurnya dengan kadar sistem peredarannya yang sangat teratur. Dalam saat yang sama, Alloh SWT mengatur dan menetapkan kadar waktu bagi peredarannya itu, sampai pada akhirnya ditetapkanlah tempat dan waktu pemberhentiannya yaitu hari Kiamat.
Menurut perhitungan para ahli astronomi matahari bergerak dengan kecepatan 17.280.000 km/hari ke arah bintang Vega dalam suatu garis edar yang disebut Solar Apex. Terdapat sekitar 200 milyar galaxy di seluruh alam semesta dan masing-masing terdiri dari 200 bintang. Sebagian besar bintang-bintang ini mempunyai planet dan sebagian besar planet-planet ini mempunyai bulan. Semua benda langit tersebut berada dalam garis peredaran yang diperhitungkan dengan sangat teliti. Galaksi-galaksi pun berjalan dengan kecepatan luar biasa dalam suatu garis edar yang terhitung dan terencana. Selama pergerakkan ini tak satupun dari benda-benda angkasa ini memotong lintasan yang lain atau bertabrakan satu sama lainnya. Hal ini semua Alloh firmankan dalam Al-Quran surah Adz Dzaariyaat ayat 7 yang menyatakan : Wassamaai dzaatil hubuk.
Dengan pergantian siang dan malam kalian dapat mengetahui bilangan tahun, perhitungan bulan, hari dan segala sesuatu yang mendatangkan kemaslahatan. Semua itu telah Alloh terangkan dengan jelas sehingga dapat menjadi bukti keagungan-Nya. Tahun Hijriah selayaknya dikenal namun realitasnya kebanyakan kita umat Islam justru lebih mengenal tahun Masehi dan melupakan tahun Hijriah. Padahal tahun Hijriah ibarat sebuah Titiik 0 atau Ground Zero dengan ditandai Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah yang memiliki multi dimensi makna kehidupan untuk dunia maupun akhirat bagi umat umatnya sepanjang zaman.
Kemudian Alloh SWT menjelaskan bahwa ada empat Bulan yang dinamakan dengan 'Asyhurul Hurum' yang berarti Bulan-bulan yang dimuliakan. Bulan-bulan yang didalamnya penuh Rahmat dan Berkah, dilipatgandakannya pahala dan diharamkan didalamnya perbuatan keji atau berbuat Dzolim, karena seburuk-buruknya perbuatan keji dilakukan pada keempat Bulan itu. Empat Bulan itu adalah Dzulqo'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.
Rasulullah bersabda: "....Di dalam satu tahun ada dua belas bulan dan di antaranya terdapat empat bulan yang mulia, tiga di antaranya berturut-turut: Dzulqa'dah, Dzulhijjah dan Muharram, dan Rajab yang berada di antara bulan Jumada dan Sya'ban." (HR. Bukhari).
Ibnu Katsir mengatakan: "Di bulan-bulan yang Allah tetapkan di dalam setahun kemudian Allah khususkan dari bulan-bulan tersebut empat bulan, yang Allah menjadikan sebagai bulan-bulan yang mulia dan mengagungkan kemulyaaannya, dan menetapkan perbuatan dosa di dalamnya sangat besar, begitu pula dengan amal shalih pahalanya begitu besar." (Lihat Tafsir Ibnu Katsir pada QS. at-Taubah:36)
Sekarang ini kita semua berada di Bulan Muharram. Ya, salah satu dari keempat Bulan yang Alloh muliakan. Bulan yang mulia dan penuh Berkah. Bulan yang istimewa, menyimpan banyak makna yang patut ditafakkuri dan ditadabburi. Muharram tidak saja menandai awal tahun menurut penanggalan Islam, namun di dalamnya juga tersimpan hari mulia "Asyura" yang mencatat sejarah penting dan senantiasa dikenang dan diperingati sepanjang zaman oleh kaum Muslimin. Dinamakan Muharram karena kemuliaannya yang memberikan pesan kepada kita semua untuk mengisinya dengan kegiatan-kegiatan yang positif, mengagungkan Asma-Nya dan menjauhi perbuatan maksiat.
Hadis dari Ibnu 'Abbas dan Qotadah telah cukup memberikan keterangan yang jelas akan kemuliaan Bulan Muharram ini. Perbuatan baik akan dilipatgandakan dengan sebaik-baiknya penghitungan dan perbuatan dosa akan menjadi siksaan yang sangat dan sangat pedih. Memang, perbuatan dosa dilakukan kapanpun akan mendapatkan siksa, tetapi Alloh mengkhususkan bahwa seburuk-buruknya perbuatan Dosa dilakukan pada keempat Bulan ini. Allah SWT berfirman, artinya: "Janganlah kalian mendzalimi diri-diri kalian di dalamnya -bulan-bulan tersebut-(QS. at-Taubah: 36)
Itulah kehendak Alloh yang tiada seorang pun bisa merubahnya. Sebagaimana Alloh memuliakan para Nabi dan Rosul sebagai Manusia pilihan, Alloh memuliakan Al-Quran sebagai wahyu-Nya, Alloh memuliakan Masjid Al-Harom dan Makkah sebaik-baiknya tempat di muka bumi, Alloh memuliakan Bulan Ramadhan dari Bulan-bulan yang lainnya, Alloh memuliakan Hari Jum'at dari hari-hari yang lainnya dan Alloh memuliakan lailatul Qodr dari malam-malam yang lainnya.
Di Bulan ini pula ada satu hari yang Rosululloh perintahkan kita semua untuk berpuasa. Ya, Asyura itulah namanya. Hari Asyura dikenang sebagai hari dimana Allah menyelamatkan Nabi Nuh a.s. dari bencana banjir dan menenggelamkan musuh-musuh-Nya. Asyura juga dikenang sebagai hari Allah menyelamatkan Musa a.s. dari kejaran Fir'aun dan tentaranya. Itulah sebabnya umat Yahudi dan umat Nasrani mengagungkan hari ini. Nabi Nuh dan Musa diriwayatkan melakukan puasa pada hari ini sebagai ekpresi syukur kepada Allah atas kemenangan yang diberikan kepadanya. Itulah kekuasaan Alloh.
Pada Bulan Rabiul Awwal tahun kedua Hijrah, Rosululloh SAW datang ke Madinah dan melihat orang-orang Yahudi sedang berpuasa hari Asyuro. Maka Rosul bertanya kepada mereka: Hari apa ini, sehingga kamu sekalian berpuasa?. Mereka menjawab: Hari ini adalah Hari yang suci, suatu hari dimana Alloh menyelamatkan Nabi Musa dan para penikutnya dari musuh-musuhnya. Maka Nabi Musa pun berpuasa pada hari itu sebagai rasa syukur. Setelah itu Rosul bersabda: Maka kami lebih berhak melaksanakan syari'at Nabi Musa dari pada kalian. Pada hari itu, Rosul pun berpuasa dan memerintahkan kaum Muslimin untuk berpuasa.
Pada masa awal Islam, puasa Asyura adalah wajib bagi setiap muslim hingga turun ayat yang mewajibkan puasa bulan Ramadhan. Di mata Rasulullah s.a.w. hari Asyura begitu istimewa, beliau senantiasa melaksanakan puasa pada hari ini dan memerintahkan umatnya berpuasa demi rasa solidaritasnya kepada saudara seperjuangannya Nuh dan Musa a.s. Asyura bagi umat Islam juga menampilkan kilas balik tragedi Karbala yang telah merenggut kedua cucu tercinta Rasulullah s.a.w, Hasan r.a. dan Husain r.a.. Lebih dari itu Karbala adalah tragedi yang menyadarkan kita betapa anarkisme, kekerasan dan tindakan tidak berperikemanusiaan telah menjadi noktah hitam sejarah umat Islam yang tidak akan pernah layak untuk terulang kembali.
Imam Nawawi Rohimakumulloh mengatakan, Puasa Asyuro menghapus seluruh dosa kecil. Jika Puasa 'Arafah menghapuskan dosa dua tahun yang telah lewat, maka puasa Asyuro menghapuskan dosa satu tahun yang telah lewat
Disunnahkan bagi seluruh Muslim agar memperbanyak ibadah dan puasa di Bulan Muharram. Hadis dari Abu Huroiroh r. a. Sesungguhnya Rosululloh SAW bersabda: Puasa yang paling utama setelah Bulan Romadhon yaitu Puasa di Bulan Muharram.(HR. Muslim).
Dianjurkan puasa Asyura pada 10 Muharram disertai dengan Tasu'a 9 Muharram untuk menyelisi orang-orang Yahudi dan Nashrani. Ibnu Abbas berkata, "Ketika Rasulullah berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan para shahabat untuk berpuasa, mereka berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari tersebut diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nashrani, maka Rasulullah bersabda, "Maka apabila datang tahun depan insya Allah kita berpuasa pada hari ke sembilan." Ibnu Abbas berkata, "Tidaklah datang tahun berikutnya sampai Rasulullah wafat."(HR. Muslim).
Mari kita berlomba-lomba berupaya mendapatkan kebaikan seperti bersilaturrahim, menghilangkan kedengkian serta mensucikan hati dan penuh kasih kepada orang di samping kita, kepada fakir miskin serta anak yatim, membantu mereka dan memberikan kegembiraan kepada mereka. Semoga kita semua tetap bisa istiqamah dan semoga kita semua di berikan pemahaman yang benar dan lurus terhadap Agama Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamiin
Robbana Yuwaffiquna Jamii’an