Sabtu, 19 April 2008

What is behind antagonizing Islam

What is behind antagonizing Islam

The mass media has recently reported that a member of Dutch parliament demanded a ban on the circulation of the Holy Quran in Holland and in Europe. Before that the media also reported statements by the personal Secretary of the Pope of the Vatican. Many European newspapers intentionally tried to disgrace and defame Islam and its Prophet (SAW), and in turn, all his followers.
All that is not something new or unexpected for millions had enviously stood in the way of this vast spreading religion. All those schemes targeting Islam for hundreds of years had failed and Islam was able to expand East and West and to prevail all over the globe as strong as ever before.

It seems that many are unable to learn from history’s lessons. They did not realize very important fact tied with Islam and that is no one was able in the past or can in the present time to stand in the face of this universal faith. Their ignorance derives from the lack of knowledge about the peculiarity of this religion.
It also derives from a serious mistake of not understanding the big difference between the spread out and the invasion.
It seems inevitable to remind those who hate Islam of several facts that cannot be ignored. It is also as important to give them advice in order not to insist on their arrogance towards a religion that regards dialogue and debate in good faith as one of its basic teachings since Islam discards all forms of oppression and compulsion to embrace any faith without conviction.
By following up the language of western media in general and the European in particular, we can clearly notice the vast culture of hatred and seclusion waged against a religion whose followers, presently, are the weakest, the poorest and the most backward peoples of the world. They are the most if not the only peoples that were exposed to organized plundering of their wealth, history, culture and heritage.
Despite all that, some European priests, clergymen and politicians insist on placing those people between the hammer of hatred and the anvil of seclusion.
The astonishing thing is that this antagonism of Islam does not come from pagan people or from creeds that contradict Islam, rather this hostile attitude comes from the followers of a divine faith that share with Islam common values such as: justice, peace, tolerance and discard all evil deeds. The strange thing is that this hostile phenomenon comes from the followers of a faith that has distinctive place and respect by Islam, since this constitutes a basic pillar for Muslims where that who does not believe in Issa (Jesus) is not a Muslim and that who does not believe in the genuine Bible of Christianity is not a Muslim either. Above all Islam has high respect for the Virgin Mary. According to Islam, there is no doubt in the purity of Mary. But, despite all that, great respect on the part of Islam and Muslims towards Christianity, there are some Christians who are waging a fierce and dirty war against Islam, including church priests who regard Islam as their first enemy and that it must be confronted by all means.
If the Holy Quran did not highly respect the Virgin Mary and her undoubted purity, we may find an excuse for a priest, parliament member or a politician, here and there, who publicly antagonize the noble faith of Islam.
Those priests, clergymen and politicians cannot speak up against the doubts expressed in some of the books that Christians described as holy books and are in circulations all over Europe. These books disgrace (Jesus) (PBUH) and his mother Miriam (Mary).
Those priests and clergymen of the Christian church have no courage even to demand the omission of such disgraceful description that violate the rules of decency. They do not have the guts to eliminate that clear disgrace to the person of Issa (Jesus) his mother and disciples.
We wonder: Is it fear from certain force that the church and its followers cannot stand in the way of such evil force?
It seems that some of those calling themselves clergymen and bishops are in fact not the followers of the real Christianity, rather they act as if they are belonging to another creed aiming at falsifying the noble principles that Jesus (PBUH) preached, and to replace the genuine message of Jesus to his people with evil and oppressive conceptions.
It seems very clear that some of those who hate Jesus (PBUH) were able to penetrate deep inside the Christian faith and to distance it away from its original straight path as a divine religion which clearly mentioned and greatly honored and respected by the Holy Book of Islam, the Glorious Quran, the true words of God as revealed to the Prophet (SAW) the Last of the Prophets and Apostles.
It seems that the enmity towards the universal religion of Islam and the Holy Quran aims at eliminating all texts that were stated in Holy Quran about Issa (Jesus) Mary and the Bible, without any distortion or falsification.
If that is not the case, then the important question remains: what is the secret behind this growing animosity towards the Holy Quran?!

Published by Admin on 2008/4/17 (2 reads) from Al-Daawa Al-Islamia newspaper

Sabtu, 29 Maret 2008

نقل من الأخبار الدعوة الإسلامية عن احتفال بموليد النبي



العاصمة الأوغندية تعيش مهرجانا إسلاميا عالميا

عاشت العاصمة الأوغندية كمبالا يوم الأربعاء الثاني عشر من شهر ربيع الأول الموافق للتاسع عشر من الربيع "مارس" 2008 مسيحي ، يوما تاريخيا إحياء للمولد النبوي الشريف، بحضور الأخ قائد ثورة الفاتح الإسلامية قائد القيادة الشعبية الإسلامية العالمية، وعدد من الرؤساء الأفارقة وجموع من الفاعليات المسلمة من كل قارات العالم، لتـأكيد حق كل البشرية في إحياء ذكرى مولد خاتم أنبياء الله محمد صلى الله عليه وسلم ، الذي اصطفاه الله سبحانه وتعالى ليكون نبيا لكل البشرية، وخاتما للرسالات السماوية، حيث أحيا المسلمون ذكرى المولد النبوي الشريف، بحضور الأخ قائد القيادة الشعبية الإسلامية العالمية، ورؤساء جمهورية أوغندا، وجمهورية مالي، ورئيس جمهورية بوروندي، ورئيس جمهورية الصومال، ورئيس جمهورية جيبوتي، ورئيس زنجبار، وشيوخ وعمد قبائل الصحراء الكبرى، وشيوخ الطرق الصوفية وقيادات وفاعليات الأشراف ومنظمات ومؤسسات إسلامية وعلماء وفقهاء وأساتذة جامعات من أنحاء العالم من إفريقيا وآسيا وغرب وشرق أوروبا وأمريكا وكندا. ولدى وصول الأخ القائد رفقة الرئيس "موسيفيني" إلى موقع إحياء ذكرى هذا اليوم العظيم تعالت باللغات العربية والمحلية الأوغندية والإنجليزية تكبيرات الجموع (الله اكبر.. الله أكبر، والعزة للإسلام). كما تعالت هتافاتهم ( الفاتح ثورة إسلامية.. يعيش القائد معمر القذافي) وقد أمَّ الأخ القائد في صلاة الظهر كلا من الرؤساء المالي والصومالي والجيبوتي والزنجباري وجموع مئات آلاف المسلمين من كل من الأمريكيتين وكندا واستراليا وآسيا وأوروبا وإفريقيا .

Senin, 11 Februari 2008

MUharram Asyuro


Karya Gemilang Yang Senantiasa Mengagungkan Asma-Nya
(Tinjauan Al-Quran Surah At-Taubah : 36)
Oleh: Dani Moh. Ramdani

"Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu, dan perangilah musyrikin semuanya; dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa." (QS. at-Taubah: 36)

Syukur kita panjatkan kehadirat Alloh SWT yang telah memberikan banyak kenikmatan kepada kita semua, diantaranya dengan diciptakan Langit dan Bumi. Betapa tinggi, indah, dan kokohnya langit, begitu besar, luas dan indahnya hamparan Bumi. Sungguh, tidak ada yang mampu menciptakan semua keindahan ini kecuali Rabbul 'Izzati.
Alloh hiasi langit ini dengan dua buah karya gemilang-Nya sehingga menjadi lebih indah, yang tanpa nya nafas tak kan terhembus, tanpa nya kehidupan tak kan tercipta. Subhanalloh, itulah Matahari dan Bulan. Matahari menyinari Bumi sehingga kita dapat merasakan ni'matnya siang dan Bulan bercahaya sehingga kita dapat merasakan nyamannya malam. Siang dan malam datang silih berganti. Hal ini disebabkan karena berputarnya bumi pada sumbunya, di samping peredarannya mengelilingi matahari. Bagian bumi yang mendapatkan sinar matahari mengalami waktu siang, dan bagian yang tidak mendapatkan sinar matahari mengalami waktu malam dengan cahaya bulan sebagai hasil pantulan dari sinar matahari.
Matahari dan Bulan keduanya bergerak di dalam orbit atau garis edarnya masing-masing dalam hamparan langit yang sangat luas, dan hanya Dialah yang mengetahui batas-batasnya. Mari kita lihat Surah Al Anbiyaa ayat 33: Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan. Masing-masing dari keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.
Disebutkan pula dalam Surah Yaasin ayat 38, bahwa Matahari tidaklah diam tetapi bergerak dalam garis edar tertentu. Kata tajrii berasal dari 'jaro almaau wa ghoiruhu', berarti mengalirnya air dan yang lainnya. Artinya, berjalan atau berpindahnya sesuatu dari satu tempat ke tempat yang lain dengan cepat. Kata ini juga berarti perjalanan sangat jauh yang ditempuh dalam waktu yang relatif singkat. Kalimat limustaqarrin bermaksud bahwa Matahari bergerak atau beredar dari tempatnya ke tempat lain dan tetap pada jalurnya dengan kadar sistem peredarannya yang sangat teratur. Dalam saat yang sama, Alloh SWT mengatur dan menetapkan kadar waktu bagi peredarannya itu, sampai pada akhirnya ditetapkanlah tempat dan waktu pemberhentiannya yaitu hari Kiamat.
Menurut perhitungan para ahli astronomi matahari bergerak dengan kecepatan 17.280.000 km/hari ke arah bintang Vega dalam suatu garis edar yang disebut Solar Apex. Terdapat sekitar 200 milyar galaxy di seluruh alam semesta dan masing-masing terdiri dari 200 bintang. Sebagian besar bintang-bintang ini mempunyai planet dan sebagian besar planet-planet ini mempunyai bulan. Semua benda langit tersebut berada dalam garis peredaran yang diperhitungkan dengan sangat teliti. Galaksi-galaksi pun berjalan dengan kecepatan luar biasa dalam suatu garis edar yang terhitung dan terencana. Selama pergerakkan ini tak satupun dari benda-benda angkasa ini memotong lintasan yang lain atau bertabrakan satu sama lainnya. Hal ini semua Alloh firmankan dalam Al-Quran surah Adz Dzaariyaat ayat 7 yang menyatakan : Wassamaai dzaatil hubuk.
Dengan pergantian siang dan malam kalian dapat mengetahui bilangan tahun, perhitungan bulan, hari dan segala sesuatu yang mendatangkan kemaslahatan. Semua itu telah Alloh terangkan dengan jelas sehingga dapat menjadi bukti keagungan-Nya. Tahun Hijriah selayaknya dikenal namun realitasnya kebanyakan kita umat Islam justru lebih mengenal tahun Masehi dan melupakan tahun Hijriah. Padahal tahun Hijriah ibarat sebuah Titiik 0 atau Ground Zero dengan ditandai Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekkah ke Madinah yang memiliki multi dimensi makna kehidupan untuk dunia maupun akhirat bagi umat umatnya sepanjang zaman.
Kemudian Alloh SWT menjelaskan bahwa ada empat Bulan yang dinamakan dengan 'Asyhurul Hurum' yang berarti Bulan-bulan yang dimuliakan. Bulan-bulan yang didalamnya penuh Rahmat dan Berkah, dilipatgandakannya pahala dan diharamkan didalamnya perbuatan keji atau berbuat Dzolim, karena seburuk-buruknya perbuatan keji dilakukan pada keempat Bulan itu. Empat Bulan itu adalah Dzulqo'dah, Dzulhijjah, Muharram dan Rajab.
Rasulullah bersabda: "....Di dalam satu tahun ada dua belas bulan dan di antaranya terdapat empat bulan yang mulia, tiga di antaranya berturut-turut: Dzulqa'dah, Dzulhijjah dan Muharram, dan Rajab yang berada di antara bulan Jumada dan Sya'ban." (HR. Bukhari).
Ibnu Katsir mengatakan: "Di bulan-bulan yang Allah tetapkan di dalam setahun kemudian Allah khususkan dari bulan-bulan tersebut empat bulan, yang Allah menjadikan sebagai bulan-bulan yang mulia dan mengagungkan kemulyaaannya, dan menetapkan perbuatan dosa di dalamnya sangat besar, begitu pula dengan amal shalih pahalanya begitu besar." (Lihat Tafsir Ibnu Katsir pada QS. at-Taubah:36)
Sekarang ini kita semua berada di Bulan Muharram. Ya, salah satu dari keempat Bulan yang Alloh muliakan. Bulan yang mulia dan penuh Berkah. Bulan yang istimewa, menyimpan banyak makna yang patut ditafakkuri dan ditadabburi. Muharram tidak saja menandai awal tahun menurut penanggalan Islam, namun di dalamnya juga tersimpan hari mulia "Asyura" yang mencatat sejarah penting dan senantiasa dikenang dan diperingati sepanjang zaman oleh kaum Muslimin. Dinamakan Muharram karena kemuliaannya yang memberikan pesan kepada kita semua untuk mengisinya dengan kegiatan-kegiatan yang positif, mengagungkan Asma-Nya dan menjauhi perbuatan maksiat.
Hadis dari Ibnu 'Abbas dan Qotadah telah cukup memberikan keterangan yang jelas akan kemuliaan Bulan Muharram ini. Perbuatan baik akan dilipatgandakan dengan sebaik-baiknya penghitungan dan perbuatan dosa akan menjadi siksaan yang sangat dan sangat pedih. Memang, perbuatan dosa dilakukan kapanpun akan mendapatkan siksa, tetapi Alloh mengkhususkan bahwa seburuk-buruknya perbuatan Dosa dilakukan pada keempat Bulan ini. Allah SWT berfirman, artinya: "Janganlah kalian mendzalimi diri-diri kalian di dalamnya -bulan-bulan tersebut-(QS. at-Taubah: 36)
Itulah kehendak Alloh yang tiada seorang pun bisa merubahnya. Sebagaimana Alloh memuliakan para Nabi dan Rosul sebagai Manusia pilihan, Alloh memuliakan Al-Quran sebagai wahyu-Nya, Alloh memuliakan Masjid Al-Harom dan Makkah sebaik-baiknya tempat di muka bumi, Alloh memuliakan Bulan Ramadhan dari Bulan-bulan yang lainnya, Alloh memuliakan Hari Jum'at dari hari-hari yang lainnya dan Alloh memuliakan lailatul Qodr dari malam-malam yang lainnya.
Di Bulan ini pula ada satu hari yang Rosululloh perintahkan kita semua untuk berpuasa. Ya, Asyura itulah namanya. Hari Asyura dikenang sebagai hari dimana Allah menyelamatkan Nabi Nuh a.s. dari bencana banjir dan menenggelamkan musuh-musuh-Nya. Asyura juga dikenang sebagai hari Allah menyelamatkan Musa a.s. dari kejaran Fir'aun dan tentaranya. Itulah sebabnya umat Yahudi dan umat Nasrani mengagungkan hari ini. Nabi Nuh dan Musa diriwayatkan melakukan puasa pada hari ini sebagai ekpresi syukur kepada Allah atas kemenangan yang diberikan kepadanya. Itulah kekuasaan Alloh.
Pada Bulan Rabiul Awwal tahun kedua Hijrah, Rosululloh SAW datang ke Madinah dan melihat orang-orang Yahudi sedang berpuasa hari Asyuro. Maka Rosul bertanya kepada mereka: Hari apa ini, sehingga kamu sekalian berpuasa?. Mereka menjawab: Hari ini adalah Hari yang suci, suatu hari dimana Alloh menyelamatkan Nabi Musa dan para penikutnya dari musuh-musuhnya. Maka Nabi Musa pun berpuasa pada hari itu sebagai rasa syukur. Setelah itu Rosul bersabda: Maka kami lebih berhak melaksanakan syari'at Nabi Musa dari pada kalian. Pada hari itu, Rosul pun berpuasa dan memerintahkan kaum Muslimin untuk berpuasa.
Pada masa awal Islam, puasa Asyura adalah wajib bagi setiap muslim hingga turun ayat yang mewajibkan puasa bulan Ramadhan. Di mata Rasulullah s.a.w. hari Asyura begitu istimewa, beliau senantiasa melaksanakan puasa pada hari ini dan memerintahkan umatnya berpuasa demi rasa solidaritasnya kepada saudara seperjuangannya Nuh dan Musa a.s. Asyura bagi umat Islam juga menampilkan kilas balik tragedi Karbala yang telah merenggut kedua cucu tercinta Rasulullah s.a.w, Hasan r.a. dan Husain r.a.. Lebih dari itu Karbala adalah tragedi yang menyadarkan kita betapa anarkisme, kekerasan dan tindakan tidak berperikemanusiaan telah menjadi noktah hitam sejarah umat Islam yang tidak akan pernah layak untuk terulang kembali.
Imam Nawawi Rohimakumulloh mengatakan, Puasa Asyuro menghapus seluruh dosa kecil. Jika Puasa 'Arafah menghapuskan dosa dua tahun yang telah lewat, maka puasa Asyuro menghapuskan dosa satu tahun yang telah lewat
Disunnahkan bagi seluruh Muslim agar memperbanyak ibadah dan puasa di Bulan Muharram. Hadis dari Abu Huroiroh r. a. Sesungguhnya Rosululloh SAW bersabda: Puasa yang paling utama setelah Bulan Romadhon yaitu Puasa di Bulan Muharram.(HR. Muslim).
Dianjurkan puasa Asyura pada 10 Muharram disertai dengan Tasu'a 9 Muharram untuk menyelisi orang-orang Yahudi dan Nashrani. Ibnu Abbas berkata, "Ketika Rasulullah berpuasa pada hari Asyura dan memerintahkan para shahabat untuk berpuasa, mereka berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari tersebut diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nashrani, maka Rasulullah bersabda, "Maka apabila datang tahun depan insya Allah kita berpuasa pada hari ke sembilan." Ibnu Abbas berkata, "Tidaklah datang tahun berikutnya sampai Rasulullah wafat."(HR. Muslim).
Mari kita berlomba-lomba berupaya mendapatkan kebaikan seperti bersilaturrahim, menghilangkan kedengkian serta mensucikan hati dan penuh kasih kepada orang di samping kita, kepada fakir miskin serta anak yatim, membantu mereka dan memberikan kegembiraan kepada mereka. Semoga kita semua tetap bisa istiqamah dan semoga kita semua di berikan pemahaman yang benar dan lurus terhadap Agama Islam sebagai Rahmatan Lil ‘Alamiin
Robbana Yuwaffiquna Jamii’an

Jumat, 18 Januari 2008

Hikayah berbuah Syari'ah

Berawal dari untaian sebuah Do’a, “Robbi Hab lii Minasholihin”, yang berarti “Ya Alloh karuniakanlah kepadaku seorang anak yang sholih”, yang dipanjatkan oleh seorang manusia pilihan yang bergelar kekasih Alloh, beliau lah Nabi Ibrohim. Do’a tersebut ia panjatkan tiada lain agar dikaruniai seorang anak sholih yang bisa meneruskan perjuangannya menyeru umat manusia kepada jalan yang lurus.
Setelah sekian lama berdo’a dan berhusnudzhon kepada Alloh, pada usia 86 tahun, Alloh mengaruniainya seorang anak sholih, yang kelak meneruskan amanah Rabbnya yaitu menjadi Nabi, beliau itu adalah Isma’il. Ia terlahir dari seorang Ibu yang bernama Hajar. Seorang istri yang selalu bersabar dan ta’at kepada suaminya, sampai-sampai dia rela ditinggalkan oleh Nabi Ibrohim di suatu tempat yang tiada satu pun tumbuhan ataupun hewan menghembuskan nafasnya. Sebuah tempat yang Alloh muliakan, dan akan menjadi tempat yang sangat bersejarah bagi umat Islam.
Hajar bingung entah harus kemana mencari seteguk air untuk Isma’il, kemudian dia berlari dari bukit Shofa sampai Marwah tujuh kali balikan. Yang selanjutnya muncullah syari’at yaitu, Sa’i. Mengapa dikatakan Shofa dan Marwah? Kata Shofa secara bahasa berarti Batu yang bersih, halus dan mulus, begitu juga diartikan sebagai sesuatu yang jernih. Dan kata Marwah berarti bukit batu yang tampak sangat mengkilap, bersih, halus, mulus dan kuat. Kemudian seorang mufassir Al-Alusi mengatakan, kemudian dua kata itu menjadi nama dua buah bukit terkenal yang ada di Makkah.
Setelah Isma’il menginjak dewasa, semakin terlihat bahwa dia adalah seorang anak yang sholih. Nabi Ibrohim datang kepada nya untuk mengajaknya membuat sebuah tempat peribadatan, yang kemudian kita kenal dengan ka’bah dan Masjidil Haram. Sebuah Masjid yang pertama kali dibuat di muka bumi. Seperti kita lihat dalam Surat Ali-Imron ayat 96-97. Dalam ayat ini, dikatakan bahwa tempat peribadatan pertama bagi manusia yaitu Bakkah. Kata Bakkah, berarti Makkah. Dalam Kamus Mukhtar Ashihah, kata Bakkah berarti Mengahancurkan atau memotong. Mufassir Ibn ‘Arabi mengatakan, Alloh menghancurkan atau membinasakan orang-orang yang hendak mengganggu atau merusak tempat itu. Kemudian atas izin-Nya berdirilah ka’bah. Mengapa Alloh SWT memerintahkan Nabi Ibrohim untuk membuat ka’bah? Kiranya ada beberapa hikmah:
Pertama, suatu tempat yang setiap tahunnya berkumpul kaum Muslimin untuk melaksanakan perintah-Nya yaitu menunaikan haji. Kata Al-Hajju secara bahasa yaitu menghadap. Maksudnya menghadap ke Baitulloh, dengan pakaian yang sama, ucapan yang sama dan tujuan yang sama, yaitu untuk melaksanakan manasik haji seperti Ihrom, Thowaf, Sa’i, Wukuf di ‘Arafah, dan ibadah lain yang di Syari’atkan. Sedangkan kata ‘Umroh secara bahasa berarti Ziarah. Artinya, Ziarah ke Baitulloh untuk melaksanakan ibadah haji yang tertentu saja seperti, Thowaf, Sa’I dan mencukur rambut. Sedangkan Wukuf, bermalam di Muzdalifah dan melempar jumroh tidak dilaksanakan ketika ‘Umroh. Kemudian Alloh SWT menjadikan Makkah tempat yang Amina dan Mubarok. Kata Amina berarti tempat yang aman, baik aman untuk jiwa maupun harta. Adapula yang menafsirkan sebagai aman akan terhindar dari siksa akhirat. Sedangkan Mubarok, bermakna Hissiyah dan Ma’nawiyyah. Hissiyah berarti segala kenikmatan yang Alloh berikan berupa kesuburan tanahnya yang bisa diolah dan dimanfa’atkan sehingga tumbuh darinya pepohonan yang berbuah. Adapun berkah Ma’nawiyyah maksudnya berkumpulnya manusia dari seluruh penjuru dunia untuk memenuhi panggilannya yaitu melaksanakan manasik haji. Tidak ada perbedaan ras, suku, ataupun bangsa. Semuanya berada ditempat yang satu mengumandangkan kalimah Thoyyibah, beristighfar, dan mengharap ridlo-Nya. Satu sama lain saling mengenal. Bukan hanya mengenal secara lahiriah tetapi mengenal secara bathiniyah, artinya satu rasa, bahwa mereka itu adalah saudara, sehingga harus saling membantu satu sama lainnya, baik dalam suka maupun duka. Sungguh indah sekali! Semua berkah ini datang berkat do’a yang selalu dipanjatkan oleh Nabi Ibrohim dahulu, “Robbi Ij’al Hadza baladan Amina”. Lihat Al-Baqoroh ayat 126 dan Ibrohim ayat 35.
Kedua, Ka’bah merupakan kiblat bagi seluruh umat Islam dalam melaksanakan Sholat setelah sebelumnya menghadap Baitul Maqdis selama 16 atau 17 bulan. Menghadap ka’bah dalam sholat berarti mengahadap Alloh SWT. Seorang Mufassir bernama Imam Al-Fakhry mengatakan, Alloh SWT. Mensifati ka’bah sebagai rumah-Nya, Wa Thohhir baitiya (Al-Haj: 26), dan mensifati mu’min sebagai hamba-Nya yang ta’at, Qul Ya ‘Ibadii (Az-Zumar: 10). Kedua pensifatan tersebut bermakna Takhshish dan Takrim. Seolah-olah Alloh berfirman: Wahai orang yang beriman, kamu sekalian adalah hamba-Ku, ka’bah adalah rumah-Ku, sholat adalah pelayan-Ku, maka hadapkanlah wajahmu ketika melayani-Ku ke rumah-Ku, dan hadapkanlah hatimu kepada-Ku.
Target utama dari pelaksanaan haji yaitu mendekatkan diri kepada Alloh sehingga memperoleh derajat Taqwa. Bila kita cermati, sudah berapa banyak umat Islam di Indonesia ini yang sudah melaksanakan haji? Seandainya para jema’ah haji itu selalu saling Tawashou bil haq wa tawashopu bi shobri atau saling nasihat menasihati dan saling mengingatkan dalam kebaikan, baik antara keluarga, tetangga, atau pun masyarakat, niscaya negara ini akan aman, tentram, damai dan sejahtera. Tetapi apa yang kita rasakan dan kita lihat sekarang ini? pintu rumah akan selalu tertutup dan jendela akan selalu terkunci. Hawatir dan takut barang kita hilang alias kecolongan. Ya, kejahatan berkembang biak dan berserakan dimana-mana.
Kita semua memegang peranan penting dalam memakmurkan Negara. Sekecil apapun nasihat yang kita sampaikan kepada saudara disamping kita, kita tetap harus menyampaikannya. Bukannya kita paling pintar atau paling soleh, tetapi bila itu kebaikan, maka sampai kan lah. Jangan takut, Alloh telah menjamin akan membantu mereka yang gigih mengajarkan kebaikan (Islam).
Kemudian disampaikanlah wahyu kepada Nabi Ibrohim lewat mimpinya untuk menyembelih Isma’il. Nabi Ibrohim sangat bersedih, karena dia sangat menyayanginya. Seorang anak yang dinanti-nanti berpuluh-puluh tahun, harus disembelih sebagai bukti keta’atan nya kepada Alloh. Tetapi dialah Nabi Ibrohim, seorang manusia yang tegar, sabar, ta’at dan patuh. Setelah Isma’il mencapai As-Sa’yu atau dewasa, Nabi Ibrohim pun mengajak Isma’il untuk berdialog. (Bisa dilihat di Surat As-Shoffat ayat 102), bagaimana seorang Bapak dengan penuh wibawa dan kehormatan berdialog bersama anaknya. Nabi Ibrohim berkata, Wahai anakku sesungguhnya aku bermimpi menyembelihmu, maka bagaimanakah pendapat kamu?. Tanpa pikir panjang, dengan tenang Isma’il menjawab, Wahai ayahku lakukan apa yang Alloh perintahkan itu, niscaya engkau akan mendapati aku sebagai orang yang sabar. Dialog itupun berhenti dan ketika penyembelihan akan dilaksanakan, Alloh SWT memanggil Nabi Ibrohim dan penyembelihan pun dihentikan kemudian diganti oleh seekor Kambing. Alloh SWT memerintahkan Nabi Ibrohim untuk menyembelih anak kesayangannya itu tiada lain merupakan ujian, apakah Nabi Ibrohim patuh dan ta’at kepada perintah Alloh, atau lebih mengutamakan hawa nafsunya yaitu kesayangannya kepada Isma’il?. Nabi Ibrohim pun melaksanakan perintah-Nya, dan itulah cobaan bagi orang-orang yang beriman. Sehingga Alloh pun mengharumkan namanya, yang akan terus dikenang sampai hari kiamat. Semua Kisah ini bisa dilihat di Surat As-Shofat ayat 100-111.
Untuk memuliakannya pun Alloh SWT menjadikan peristiwa penyembelihan kambing sebagai syari’at yang harus dilakukan oleh seluruh umat Islam yang mampu untuk melakukannya. Untuk umat Islam yang kebetulan sedang melaksanakan haji, diperintahkan untuk Al-Hadyu yaitu menyembelih Budnah atau unta sebagai salah satu cara pendekatan dirinya kepada Alloh. Kemudian bagi umat Islam yang tidak sedang melaksanakan haji diperintahkan untuk memperingati hari ‘Idul Adlha, yaitu hari raya Adlha atau Al-Udlhiyah yaitu menyembelih unta, sapi atau kambing sebagai satu cara untuk pendekatan diri kepada Alloh. Inilah satu dari dua hari raya yang telah di syari’atkan Alloh melalui seorang Rosul-Nya, ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha. Rosululloh SAW. Sangat berbahagia ketika menyambut kedua hari raya ini. Tebarkan senyum, buka kan hati, lapangkan dada, maaf kan segala kesalahan saudara kita, dan tolonglah saudara-saudara kita yang tidak mampu dengan membayar Zakat pada waktu ‘Idul Fithri dan membagikan daging kurban pada waktu ‘Idul Adlha. Dari sebagian harta kita ada hak bagi orang-orang disamping kita. Bersedekahlah dengan ikhlas! Niscaya Alloh SWT akan menggantinya dengan pahala yang berlipat-lipat ganda.
Dahulu sebelum Islam tersebar di Makkah dan Madinah, orang-orang Jahiliyah pun berkurban menyembelih unta, tetapi kemudian daging nya ditebarkan di sekitar Ka’bah dan darahnya pun dialirkan dan dipercikkan disekitar Ka’bah, sebagai persembahan kepada Dewa mereka yaitu patung Latta dan ‘Uzza, yang berdiri disekitar Ka’bah. Mereka telah kufur dan musyrik kepada Alloh.
Berbeda dengan orang-orang Jahiliyah, Alloh SWT telah menegaskan kepada orang-orang Muslim, bahwa daging Qurban yang disembelih pada waktu Al-Hadyu dan Al-Udlhiyah tidak akan sampai kepada-Nya. Tetapi yang akan sampai kepada-Nya yaitu keikhlasan dan ketakwaan. Sangat percuma ketika kita berqurban hanya untuk ria, sombong, atau ingin dilihat orang saja. Berkurban tanpa keikhlasan dan ketaqwaan seperti jiwa tanpa ruh. Orang-orang yang berkurban dengan Ikhlas akan mendapatkan pahala yang berlipat-lipat ganda. Kemudian dagingnya itupun kita nikmati dan kita sedekahkan kepada saudara-saudara kita yang lebih membutuhkannya. Inilah yang terpenting, karena berkurban itu ibarat bersyukur kepada-Nya atas segala nikmat yang telah diberikan, sehingga dianjurkan untuk disedekahkan kepada orang yang benar-benar membutuhkannya, sehingga tidak hanya kita yang bisa mencicipi nikmat dan lezatnya daging kurban, tetapi mereka pun mencicipinya walaupun tidak seberapa.
Coba kita bayangkan, bagaimana seandainya daging kurban itu benar-benar tersebar merata kepada seluruh orang yang membutuhkannya? Meskipun hanya satu kali dalam satu tahun, sepertinya tidak akan begitu banyak orang yang kelaparan atau busung lapar seperti kita saksikan sekarang ini.
Kalau kita mampu untuk menunaikan haji ke Baitulloh atau berkurban di kampong halaman kita, maka janganlah ragu, tunaikan lah haji atau berkurban lah dengan ikhlas, akan tetapi kalau kita belum mampu untuk melaksanakan itu, maka berdo’alah dengan ikhlas agar tahun depan kita diberikan kemampuan. Kita harus yakin bahwa Alloh itu dekat, kita harus yakin bahwa Alloh itu akan selalu mendengar dan kita harus yakin bahwa Alloh akan mengambulkan do’a yang keluar dari hati dan mulut kita yang Ikhlas. Amin Ya Robbal ‘Alamin.
Dani Moh. Ramdani